Senin, 21 Januari 2019

Cara Mengajukan Take Over Kredit Rumah

Posted by mirajudin on Januari 21, 2019 with No comments

Berdasarkan data dari Bank Indonesia menyebutkan bahwa menggunakan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada bank menjadi salah satu cara yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk mendapatkan hunian idaman.

Sama seperti skema pembayaran cicilan pembelian rumah dijual pada umumnya, KPR juga memiliki kekurangan, yaitu adanya kemungkinan gagal kredit atau pelunasan hutang. Panjangnya masa  tenor cicilan terkadang membuat debitur susah untuk melunasinya.
   
Namun tak perlu khawatir, bagi Anda yang khawatir terjadinya gagal kredit sebenarnya bisa menggunakan cara take over kredit, yakni dengan menggunakan cara take over KPR yaitu pengalihan tanggung jawab debitur kepada orang lain.

Cara melakukan take over kepemilikan rumah tersebut ternyata tidak terlalu sulit. Bahkan, cara tersebut hampir sama dengan cara pertama kali nasabah mengajukan pinjaman pembangunan rumah pada bank yang terdahulu. Berikut adalah langkah-langkahnya.

  • Menyiapkan data prinsip pribadi serta data persyaratan Kredit Pembangunan Rumah (KPR), seperti, foto copy KTP, foto copy kartu keluarga, fotokopi surat nikah, slip gaji terakhir, NPWP, surat keterangan kerja, surat keterangan  penghasilan sesuai dengan ketentuan yang diminta pihak bank, fotokopi mutasi keuangan 3 bulan terakhir dari tabungan perbankan. Syarat ini berlaku untuk seluruh nasabah, pegawai BUMN, pegawai PNS, karyawan swasta, maupun perorangan.
  • Khusus untuk nasabah dengan status pengusaha, syarat ditambahkan dengan dilampirkannya SIUPP, TDP, NPWP, HO, Akte pendirian perusahaan yang asli dari notaris, serta dilampirkan bukti keuangan terbaru selama 2 tahun terakhir.
  • Meminta hard copy yang berupa print out dari sisa pokok pinjaman terakhir yang masih menjadi kewajiban nasabah KPR.
  • Pastikan pengajuan KPR Anda di bank yang baru (bank yang akan memberikan KPR kepada Anda) telah menyetujui plafon pinjaman dan tingkat suku bunga yang ditentukan, hal tersebut dibuktikan dengan terbitnya Surat Keputusan Kredit atau SKP yang sah.
  • Melakukan negosiasi terhadap bank lama (bank awal yang memberikan KPR) mengenai pengurangan denda penalti (itu pun jika ada) dan denda-denda lainnya yang pernah disepakati ketika melakukan perjanjian kredit yang sebelumnya.
  • Pastikan fasilitas tambahan yang dijanjikan (itupun jika ada) dan yang akan nasabah terima dari pihak bank baru yang akan memberi KPR secara tertulis, benar-benar harus terealisasi.
  • Melakukan koordinasi dengan notaris perbankan untuk berbagai keperluan urusan yang berkaitan dengan pengeluaran jaminan dari bank lama yang biasa dikenal dengan sebutan roya. Itu merupakan surat pelepasan hak tanggungan dari bank lama.
  • Sebelum roya diterbitkan dengan persetujuan bank lama, Anda terlebih dahulu diwajibkan untuk melunasinya. Anda perlu mempersiapkan dana talangan dari sejumlah sisa pokok hutang untuk pelunasan.
  • Jika bank yang baru (yang bersedia memberikan KPR pada Anda) bersedia untuk menalangi dana pelunasan dari sisa pokok pinjaman Anda dari bank yang lama, hal tersebut sangat memudahkan nasabah dalam melakukan take over.
  • Lakukan perhitungan rinci  mengenai keuntungan jangka panjang yang akan diperoleh. Misalnya, suku bunga lebih rendah, tenggat waktu kredit lebih panjang, dan naiknya plafon pinjaman dari jumlah kredit yang diberikan sebelumnya. 

0 komentar:

Posting Komentar